Berbagai Keragaman di Aceh Singkil

Masyarakat Indonesia beragama Islam, akan tetapi ada juga agama minoritas di dalam negeri ini. Berbicara masalah agama, di Indonesia terdapat enam agama yakni: Islam, Kristen, Protestan, Hindu, Budha dan Konghucu. Keenam agama ini merupakan agama yang mendapatkan tempat dalam Kementerian Agama. Sedangkan lainnya, yang berupa kepercayaan kepada Tuhan masuk dalam binaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pada masa Orde Baru dan sekarang berada dalam Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, karena agama-agama lokalitas dianggap sebagai bagian dari kebudayaanya.

Agama adalah sebuah realitas sosial yang tidak dapat dielakkan oleh siapapun, baik dalam masyarakat tradisional maupun modern. Dimensi pluralitas yang dipunyai agama adalah sesuatu yang sifatnya neutral values, artinya agama mempunyai potensi konstruktif sekaligus destruktif dalam kehidupan umat manusia.

 Pentingnya kerukunan umat beragama, maka di setiap daerah khususnya desa, adanya suatu lembaga yang dapat mengayumi masyarakatnya dan menyelesaikan permasalahan yang ada dalam masyarakat, yang disebut dengan lembaga adat. Lembaga adat yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Aceh sejak dahulu hingga sekarang mempunyai fungsi dan berperan dalam membina nilai- nilai budaya, norma-norma adat dan aturan untuk mewujudkan keamanan, keharmonisasian, ketertiban, ketentraman, kerukunan dan kesejahteraan bagi masyarakat Aceh sebagai manifestasi untuk mewujudkan tujuan-tujuan bersama sesuai dengan keinginan dan kepentingan masyarakat setempat.

Berbicara keberagaman, khususnya di Provinsi Aceh terdapat banyak keragaman suku. Suku yang terdapat di Provinsi Aceh ada 13 suku, yaitu : Aceh (mayoritas), Aneuk Jamee, Kluet (Aceh Selatan), Papak, Lekon, Haloban, Singkil (Aceh Singkil), Neuk Laot, Semeulu, Sinabang (Semeulu), Tamiang (Aceh Timur), Gayo Bener Meriah, Gayo Lues, (Aceh Tengah), Alas (Aceh Tenggara). Berbagai macam suku yang ada di Aceh maka bermacam pula adat istiadat, bahasa dan pola pikir disetiap suku tersebut. Bukan hanya suku, bahasa dan budaya, Provinsi Aceh yang merupakan daerah istimewa yang menerapkan hukum Syari’at Islam, bukan berarti di Aceh semuanya beragama Islam, akan tetapi di Aceh juga terdapat beragam pemeluk agama, seperti Agama Kristen, Protestan, Hindu dan Buddha.

Sebegaimana halnya suku-suku Batak lainnya, etnis inipun mengenal marga yang diturunkan dari garis patrilineal (ayah). Secara umum, marga-marga yang digunakan Suku Singkil relatif sama atau mirip dengan marga-marga yang ada di Suku Pakpak, Alas, Kluet, dan sebagian Karo serta Toba. Namun ada juga yang berbeda. Marga-marga yang terdapat dalam Suku Singkil di antaranya adalah :

·         Kombih (Kumbi)

·         Ramin

·         Buluara

·         Palis (Pelis)

·         Manik

·         Kembang

·         Kesugihen

·         Lingga

·         Bako

·         Ujung

·         Sulin (Solin)

·         dll,

Ada juga beberapa marga Singkil yang berasal dari keturunan Minangkabau yang telah berasimilasi menjadi orang Singkil sejak berabad-abad yang lalu.

·         Melayu

·         Goci

Suku Singkil beragama Islam. Agama Islam diyakini telah menyebar sejak beberapa abad yang lalu di tanah Singkil oleh para saidagar pendatang dari Minangkabau. Kemudian juga dari kekuasaan kerajaan Aceh yang pernah menguasainya selama beberapa abad. Suku Minang banyak meninggalkan jejak sejarah dan keturunannya di daerah pesisir. Suku Singkil pernah memiliki seorang ulama yang terkenal pada masa lalu yakni Abdurrauf Singkil atau Syekh Abdur Rauf as-Singkili. Dia pernah menjadi seorang ulama besar dan mufti di Kerajaan Aceh pada abad XVII.

Provinsi Aceh terdiri dari 23 kabupaten dan kota, kabupaten yang terdapat banyak keragaman bahasa, suku dan agama biasanya terdapat di daerah perbatasan, salah satunya Kabupaten Aceh Singkil. Kabupaten Aceh Singkil ini merupakan daerah yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara, sehingga di Kabupaten Aceh Singkil ini hidup berdampingan dengan bermacam-macam suku dan umat beragama lainnya. Suku yang terdapat di Kabupaten Aceh Singkil selain Papak, Lekon, Haloban, Singkil juga bercampur dengan suku Batak yang merupakan suku dari Provinsi Sumatera Utara, kemudian juga hidup berdampingan dengan umat non muslim seperti umat beragama Kristen, yang merupakan umat non muslim terbanyak setelah Islam.

Menurut saya memang tidak bisa dipungkiri bahwa setiap agama memiliki kata kunci yang menjadi simpul dari agama yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena setiap agama datang dengan kurun waktu yang berbeda, serta daerah yang berbeda pula. Walaupun demikian perbedaan tersebut tidaklah menjadi persoalan, karena di Indonesia memberikan kebebasan seluas-luasnya untuk mengamalkan ajarannya.

Pada hakekatnya, hubungan antar agama adalah hubungan antar manusia. Alasannya sederhana, bahwa semua manusia itu beragama, apapun nama, jenis, tata cara, dari agama yang dianutnya. Konsekwensinya, kalau hubungan antar agama baik, maka akan baik pulalah hubungan antar manusia. Bukan hanya satu agama yang mengajarkan tentang kerukunan, namun semua agama mengajarkannya.

Kemudian selain toleransi juga karena kadang masih ada ikatan keluarga. Maka dari itu tidak heran Aceh singkil hidup baik berdampingan dengan beragam agama, suku, adat dan lainnya. Aceh singkil termasuk banyak beragam agama, suku, adat dan lainnya yang membuat penduduk tersebut memiliki toleransi yang tinggi terhadap sesamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suasana Idul Fitri 1 Syawal 1441 H

Resensi Film The Bang-Bang Club

Kisah Inspiratif Tokoh Besar Muhammadiyah